Sehat Berpuasa

Oktober 19, 2007

“Berpuasa agar sehat dan Cara sehat berpuasa”

Sebuah pengantar Diskusi
Oleh: Dr. Hardi
( Disampaikan pada seminar MIIAS (Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan)
7 Oktober2007 ).

Intro
Pembahasan masalah Puasa da kesehatan bukanlah sesuatu yang baru. (Kita bahkan bisa searching di ‘google’ atau di ‘journal databases’ dengan key Word: puasa & sehat, fasting & health, atau ramadhan & health, kita akan banyak menemukan pembahasan tentang hal tersebut, baik aspek positif atau perdebatan dan guideline pelaksanaan nya agar tetap sehat). Namun, saya mencoba mengajak kita diskusi lebih jauh, mungkin menambahkan, atau melihat dari perspektif lain. Yang diminta kemaren oleh pengurus sebenarnya adalah membahas dan menghantarkan diskusi tentang ‘Puasa, Kesehatan dan Produktifitas.” Namun, menurut hemat saya dua kata terakhir secara epistimologi dan terminologi bahasa Sangat luas. Oleh karena itu saya mencoba menghantarkan diskusi ini hanya lepada topik “Puasa dan Kesehatan.” Karena itu pun cukup luas.
Kesehatan menurut definisi WHO (World Health Organizaztion) (1), adalah suatu kondisi bukan hanya terbebasnya dari penyakit dan gangguan fisik, tetapi juga keadaan mental dan social (Bio-psycho-sociowellbeing). Oleh karena itu, ilmu kedokteran menjadi Sangat luas “Mulai dari ilmu yang mempelajari tentang calon manusia seperti Andrologi dan Embriologi, keseahatan mental (Psikiatri), kesehatan social (community health & medicine), dan sampai pada ‘mantan’ manusia (ilmu ked. Forensik).
Maka berbicara puasa: akan terkait ketiga aspek diatas: Kesehatan social, Jiwa dan Fisik).
Disini saya memfokuskan pada kesehatan fisik. Masalah kesehatan (kesalehan) sosial dan jiwa (pengendalian diri dll) dibahas dalam diskusi-diskusi yang lain.
Puasa dan Kesehatan Fisik
(Biologis/ Jasmani)
Puasa ditinjau dari kesehatan fisik, ada 3 aspek yang menjadi poin penting:

1. Jika berpuasa dengan benar (ihtisaban), puasa menjaga dan meningkatkan kesahatan orang yang sehat.
2. Jika berpuasa dengan benar, puasa menstabilkan gangguan fungsi tubuh orang yang mengalami gangguan kesehatan.
3. Ada petunjuk khusus (guidelines), bagi orang yang memang mempuyai beberapa peyakit tertentu pada stage (stadium) tertentu.Diantaraya Diabetes mellitus (sakit gula) yang dalam pengobatan, hamil dan menyusui, anemia sedang-berat, dan sakit lambung (mag) ‘non-fungsional.’ (2). (Untuk kedaan seperti ini kita perlu berkonsultasi khusus dengan dokter, bagaimana cara kita perpuasa, biasanya kasus-kasusnya lebih bersifat individual).

Puasa bermanfaat bagi kesahatan, namun suatu hal yang perlu ditegaskan bahwa tujuan utama, niat dan ‘terminal’ puasa itu adalah: untuk mencapai Taqwa & ke-Ridhaan Allah (QS:2 (Albaqarah); 183). Peninjaun puasa bemanfaat bagi kesahatan, bukan untuk mengalihkan terminal dan niat utama tadi. Namun tinjauan ini adalah upaya rsional dan empiris melihat bagaimana puasa juga bermanfaat bagi kesehatan jasmani kita.
Dengan stimulus yang diberikan Rasul: Shaumu Tashihu… (Berpuasalah agar kamu mejadi sehat) *). Kita mencoba mengkaji hal ini, mengapa dan bagaimana.
Berpuasa yang benar dari sisi kesahatan (ilmu Gizi dan medis) adalah:
-Berpuasa dengan megatur konsumsi karbohidrat komplek dan karbohidrat bebas (refine glucosa) (3) saat berbuka dan sahur.
- Cukup menkonsumsi ciran
- Cukup menkonsumsi ‘serat’ (4): seperti buah dan sayur.
- Menghidari makanan tinggi lemak dan terlalu banyak gorengan.
- Menhindari atau menhentikan rokok dan kafein.
- Mennghindari minutan yang mengandung soda (cola).
- Menghindari makanan tinggi kadar bumbu (seasoning) terutama bawang (onion & garlic).
Mengapa bisa demikian, dan mengana dari sisi kesahatan dianjurkan seperti itu?
Diantara penjelasannya sebagai berikut:
- Bila kita terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat bebas (makanan yang mengandung pemanis dan gula), baik saat berbuka dan sahur, dia akan secara cepat dan bersamaan diabsorbsi (diserap) kedalam darah dan kadar gula dalam darah akan cepat menigkat saat berbuka dan sahur tersebut, untuk menjaga agar gula dalam darah tetap menjadi normal, tubuh merespon dengan megeluarkan insulin endogen (5). Namun siang hari, ketika gula darah sudah turun, meskipun sekresi insulin sudah menurun juga, kadar insulin tsb dalam darah tetap tinggi, karena kadarnya menurun lebih lambat dibadingkan gula darah. Sehingga, orang merasakan pusing yang berlebihan disiang hari, karena gula darahnya masih ditekan oleh insulin tersebut (bisa sampai hypoglecemia atau batas hypo-borderline (6)).
(Masalah karbohidrat ini pernah diposting oleh beberapa kawan-kawan pada tempo hari).
Oleh karena itu, salah satu slogan “Berpuasalah dengan yang manis kurang tepat; jika itu dikonsumsi berlebihan, karena ternyata ‘kurma’ yang mejadi makanan berbuka rasul, yang tiggi bukan refine glucosa (3) nya tetapi karbohidrat komplek.
Tetapi mengkonsumsi refine glucosa (3) (minum yag Manis), saat berbuka perlu, seperlunya, sebelum shalat maghrib. Karena ia diabsorbsi cepat maka gula darah dan tenaga kita juga akan cepat pulih.
- Mngkonsumsi kafein dan merokok bisa meningkatkan sekresi asam lambung yang berlebihan. Hal ini dapat memicu terjadinya penyakit lambung (mag).
Bisa juga menyebabkan irritable dan fine tremor (gemetar ringan), terutama bagi orang-orang yang rentan.
- Minuman tinggi cola menyebabkan peregagan pada lambung, dan akan memberatkan kondisi lambung yang rentan atau sudah pernah sakit (mag) (2) sebelumnya.
- Konsumsi ciran dan serat (sayuran) yang kurang, tidak hanya akan menyebabkan kita kehausan tapi juga dapat memicu terjadinya konstipasi (susah Luang air besar).
- Konsumsi cairan yang kurang, dapat memicu terjadiya pembentuka cristal dalam kandung kemih dan ginjal (batu), serta penumpukan asam laktat (7) dan asam urat (8) dalam jaringan. Sehingga bisa menimbulkan nyeri sendi, otot dll.
Dengan berpuasa yang benar, peneliatian2 medis menunjukkan:
- Jika berpuasa dengan benar tadi, Puasa akan meningkatkan dan menjaga kesahatan karena dengan berpuasa akan menstabil kan kolesterol dan gangguan hiperkolesterol (istilah medis yg lebih tepat adalah Dislipidemia (9)).
- Bersamaan dengan yag diatas, terjadinya penstabilan tekanan darah, terutama bagi orang yang ‘hipertensi fungsional.’. Karena terjadi secara bersamaan, pengontroloan diri (emosi dan stress) dan makanan.
- Terjadinya keseimbangan gula darah ( blood glucosa) (6). Dan bagi orang yang sehat, dan berpuasa dengan benar, tidak terjadi penurunan gula darah menjadi abnormal (hipoglikemia) (6).
- Tidak terjadi peingkatan asam lambung mencapai yang meyebabkan kita timbal penyakit lambug (mag), meskipun terjadi peningkatan pada hari-hari pertama puasa.
Poin Penting
(Bukan kesimpulan… Karena diskusinya masih terus berjalan).
Berpuasa untuk mecapai makna nya harus dilakukan dengan benar.
Karena rasul SAW, menegaskan, untuk mendapatkan ampunan yang tiada terhigga harus dilakukan dengan … “Imanan wa Ihtisaban.” *).
Maka ihtisaban, dari perspektif medis tadi bisa kita maknai bagaimana berpuasa dengan manata konsumsi dan prilaku hidup sehat.
Maka sungguh, amat benarlah apa yang dikataka Allah, bahwa makan dan minum adalah statu keharusan dan kebutuhan tapi harus diatur sedemikian rupa dan tidak berlebihan [QS:7 (Al-‘Araf):32]. Karena dengan demikianlah ia baru mendatangkan manfaat yang jangka pendek (tenaga dan kenyang) dan jangka panjang (terjaga kesehatan).
Dan juga, bahwa perintah Allah untuk memilih makanan bukan hanya perintah memilih makanan yang halal tapi juga harus memilih makanan yang baik (Halalan tayyibaa) [QS:5 (Al-Maidah):88 , QS:20(Thaha):81, QS:23Al-Mu’minun):51]. Dari segi kesehatan, baik dapat ditunjau dari yang kita sebutkan diatas: baik zat-nya secara umum, baik cara mengkonsumsinya, baik pola makannnya, dan juga baik bagi tubuh/ kondisi kesehatan kita secara pribadi.
Berpuasa di bulan ramadhan adalah pola latihan diri bagaimana kita mngetaur hal yang demikian itu.
Karena kalau tidak demikian:
Nabi juga menegaskan “Kam min shaimin, laisa-lahu min shiyamihi, illa “juu’ wa-al-athas.” *) (Beta banyak orang yang berpuasa, Namur tiada yang didapat baginya dari puasanya itu, kecualli “lapar dan haus.”
Maka bisa kita lihat,
-Bagaimana orang berpuasa tapi ‘iman dan ihtisab’ tidak benar maksiat jalan terus dan perbuatan keji tetap dilakukan.
-Dari sisi kesehatan tadi, bila tidak benar, maka justru yang sehat malah timbul penyakit.
Mudah-mudahan kita berpausa dengan benar: benar niat, benar rukun dan syaratnya, dan juga benar untuk kesehatan kita.
Diskusi
& Renungan
Umat muslim di Indonesia sebagai umat muslim terbesar secara kuantitas di dunia, yeng tentunya mayoritas melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan. Tentu sebagai, dari segi kesehatan tadi seharusnya di Indonesia masyarakatnya akan “Sehat secara fisik, mental & sosial,” tentunya tingkat kejahata rendah dan pengendalian dirinya bagus tapi malah sebaliknya.
Mengapa (dari sisi pelaksanaan puasa)?
-Puasa Belum benar :?
-Sisi lain: penegakkan hukum, kondisi sosial, dll :?

Ayat-ayat yang menerangkan tentang “makanlah yang halal lagi baik (tayyib) di atas.” Sebuah stimulus kepada kita untuk senantiasa memperbaiki diri dari pola konsumsi makanan. Kalau kita berfikir secara empiris eksak, logikanya akan begini… [Meminjam istilah mas Asep M. Iqbal (Sosiolog),... (agar tidak plagiarism Mas...), Latar belakang saya, ilmu eksak, biasa mengambil kesimpulan sebuah permasalahan, baik induksi ataupun deduksinya: bersifat eksak juga. ??!!??]
Mungkin, cara memahami ayat perlu pendekatan-pendekatan lain. ??!!??
–>
Peritah makan, makanan yang halal dan baik adalah sama…..
Maka memakan makaan yang haram adalah dosa, tentunya memakan makanan yang tidak baik, sperti nyata-nyata merusak dan membahayakan tubuh juga dosa,
-Mengapa kita menganggap sesuatu yang wajar mengkonsumsi makaan atau zat tertentu yang nyata-nyata merusak tubuh? Contoh, lebih tegas, mengapa merokok itu boleh? dll.
oooOOOooo

References
Dari berbagai sumber:
Al-Quran Karim, Medical textbook, journal and grey articles.
Note:
1. Pengertian kesehatan menurut WHO ini diikrarkan pada konfrensi internasional tahun 1978 di Alma Atta, Kazaghstan, hasil pertemuan ini terkenal dengan ‘Declaration of Alma-Atta.’
2. Sakit lambung yang secara umum dikenal dengan ‘mag’, secara medis sangat banyak macamnya. Kata ‘Mag’ dari bahasa belanda (ancient nederland) untuk penyakit lambung sebenarnya kurang tepat karena artinya lambung. Dalam bahasa latin sebagai bahasa pengantar dunia kedokteran disebut ‘gastro’. Peradangan lambung (sakit lambung) disebut dengan gastritis.
Gastritis secara proses terjadinya (patofisiologi), terbagi atas dua: Fungsional dan Non-fungsional.Gastritis fungsional: terjadi akibat peningkatan sekresi asam lambung yang berlebihan dan jangka waktu yag lama (kronis) karena gangguan psikis, emosi dan stress. Dalam berpuasa biasanya ini akan membaik, jika kontrol emosi dan jiwa menjadi lebih tenang.
Gastritis non-fungsional: terjadi peradangan akibat gangguan non psikis. Untuk berpuasa dan bagaimana berpuasa perlu dilihat tingkat keparahannnya (stadium nya), ini sifatnya individual, dan perlu konsultasi secara khusus. Untuk gambaran, gastritis ini bisa akut, kronis dan erosif. Penyakit lain yang terkat adalah: tukak lambung dan peptik (ulcus ventriculi, duodeni dan peptikum). Yang menurut masyarakat masih tetap sama (masih disebut Mag). Padahal kondisi ini sudah sagat berbeda.
3. Karbohidrat kompak atau pati (compact carbohydrate/ starch) adalah karbohidrat yang terbentuk dari banyak molekul gula (beberapa molekul glukosa, fruktosa ataupun ribosa) didapat dari bahan makanan langsung dari nasi, jagung, kentang dll.
Karbohidrat murni/ bebas adalah karbohidrat yang terdiri dari satu molekul gula. Karena fokusnya adalah glukosa, sehingga dinamakan dengan Refine glucose. Ini didapat langsung dari gula dan bahan pemanis lainnya. Gula/ bahan pemanis adalah sukrosa (dua molekul gula), yang bila larut dalam air, sebagian besar akan terurai menjadi molekul tunggal (glocose and frictose).
4. Maksudnya adalah serat makanan. Bisa jadi makanan itu terlihat tidak berserat.
5. Zat yang mengatur kadar gula dalam tubuh kita ada dua: Insulin dan Glukagon.
Keduanya disekresi oleh tubuh kita sendiri dari pangkreas. Insulin dalam tubuh berfungsi sebagai pengatur gula darah jangan sampai berlebihan, memasukkan gula kedalam sel, dan mambantu metabolisme (mengolah) gula menjadi tenaga. Pada orang sehat ini terjadi secara seimbang dan normal.
6. Glukosa darah kita dipertahankan dengan mekanisme diatas dalam batas normal (80-120mg/dl). Hypoglicemia: kadarnya sama/ kurang dari 60mg/dl. Dan Hiperglicemia: lebih/ sama 140mg/dl. Borderline artinya dalam ambang batas: skitar 60-75 atau 120-135.
(Kalibrasi angka ini sedikit berbeda tergantug metode dan jenis alat pemriksaannya).
7. Asam laktat: penumpukan zat di jaringan dari aktifitas normal atau berlebihan, karena terjadinya sedikit metabolisme anaerob. Pada level normal ini tidak berbahaya dan akan hilang. Inilah yang menyebabkan orag pegal otot setelah bekerja dan olah raga, cepat menghilang dengan massage, dipanaskan, atau diberi behan yang mengandug mentol (eg:cream gosok).
8. Asam urat: zat hasil metabolis me purin (kandungan beberapa jenis protein). Banyak terkandung dalam daging, melinjo, kacang-kacangan dll.
Konsumsi normal, tidak rentan dan cukup konsumsi cairan tidak berbahaya. Kadarnya sekitar 6.5-7.2 mg/dl. Sesuai dengan diskusi kemaren, dari pertanyaa jamah. Beberapa etis tertentu tidak rentan terhadap pengendapan asam urat ini, meskipun konsumsi bahan makanan tadi tinggi, seprti di timur tengah. Sehingga kasus ini lebih jarang di sana.
(Perbandingannya sama dengan:
kita, orang indonesia lebih kuat daya tahannya terhadap penyakit infeksi saluran cerna dari orang Australi. Sebaliknya, orang indonesia lebih rentan terhadap konsumsi alkohol untuk pusing/ mabuk dibandingkan orang Australia).
9. Dislipidemia atau lebih umum dikenal dengan hiperkolesterol, terjadinya ketidak seimbangan lemak darah. (Kolesterol total meningkat/ tetap, LDL meningkat, HDL menurun, dan trigliserida meningkat).
10. Biorhytmic tubuh: proses dalam tubuh menyesesuaikan dengan pola makan dan aktifitas sehari-hari.
11. Consiuss state (tingkat kesadaran) secara psikis: alam sadar (conciouss) dan alam bawah sadar (sub-conciouss).
(Secara medik; sadar (conciouss), apathy (linglung & un-respon), soporouss (setengah sadar), soporo-commatous (hampir koma), dan comma).
——————-


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.